SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / “Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, maka akan dipahamkan akan agamanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
WAKTU :

Melihat Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah dengan Teori Sains Modern

Terbit 27 Februari 2022 | Oleh : admin | Kategori : Kisah NabiTausyah
Melihat Peristiwa Isra’ Mi’raj Rasulullah dengan Teori Sains Modern

Melihat peristiwa Isra Mi’raj dari kacamata sains modern, Prof. Agus Purwanto menjelaskan, peristiwa Isra’ Mi’raj tidak bisa dijelaskan dengan Teori Relativitas Khusus yaitu dengan teori Kecepatan Cahaya, karena jika memakai teori tersebut, rasulullah belum keluar dari sistem tata surya.

Sehingga, untuk menjelaskan peristiwa tersebut bisa mengunakan Teori Relativitas Umum. Berarti mengisyaratkan adanya ruang dengan dimensi tinggi, immaterial atau gaib di sekitar kita.

“Cahaya ini diketahui oleh ilmuan dan diidentifikasi bahwa kecepatan cahaya itu 300.000 km/detik. Sehingga jika cahaya ini melingkar mengelilingi bumi, maka satu detik ini bisa mengelilingi bumi sekitar 6 sampai 7 kali,” ungkapnya pada Kamis (11/3) dalam Pengajian Online Memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW.

Ia meneruskan, Isra sebagai perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Asho dan Mi’raj yang artinya bergerak ke langit ke tujuh (sidratul muntaha). Jika disimplikasi, maka isra’ adalah perjalanan horizontal dan mi’raj adalah perjalanan vertikal.

“Kita asumsikan kejadian mulai bakda salat isya’ atau jam 20.00 sampai jam 4.00 pagi menjelang subuh. Jadi membutuhkan waktu 8 jam, karena perjalannya bolak-balik, maka antara pulang pergi memerlukan waktu yang sama 4 jam,” urainya.

Guru Besar Teori Fisika ITS ini menjelaskan, karena perjalanan dilakukan bersama Buraq, maka dapat diasumsikan bahwa Rasulullah dalam peristiwa itu bergerak dengan kecepatan tertinggi dialamnya, yaitu kecepatan cahaya. Maka dalam satu jam Rasulullah bisa menempuh jarak sampai 4.320.000.000 km.

Sementara, terkait dengan tata surya, ilmuan mengidentifikasi jarak antara Matahari dengan Bumi adalah 149.600.00 km. Sehingga waktu yang diperlukan cahaya dari Matahari ke Bumi itu hanya 8 menit. Prof Agus menerangkan, jika demikian, cahaya yang dirasakan oleh manusia di bumi adalah bukan cahaya yang dipancarkan seketika oleh matahari, melainkan cahaya yang dipancarkan 8 menit sebelumnya.
“Kemudian planet terluar, Neptunus itu diketahui jaraknya 4.335.000.000 km. jadi ini masih lebih besar dari jarak yang ditempuh oleh cahaya selama 4 jam, artinya Baginda Rasulullah dalam waktu 4 jam belum sampai di Neptunus. Ternyata belum sampai keluar dari Tata Surya kita,” ungkapnya.

Jadi menghitung perjalanan Rasulullah dengan teori relativitas khusus tidak memadahi. Selain itu, jika suatu objek bergerak dengan kecepatan cahaya, maka massa nya itu akan meledak. Dengan demikian penjelasan ini tidak memadahi, karena itu harus kita tinggalkan. Prof Agus menyarankan untuk merujuk kepada QS Al Isra’ ayat 1.

“Memperjalankan itu berarti memindah suatu objek dalam hal ini Rasulullah dari satu titik ke titik lain, dari satu dimensi ke dimensi yang lain, ini berarti dimensi ruang. Dan kemudian peristiwa ini terjadi pada malam hari, ini adalah masalah waktu. Ayat tersebut memberi isyarat bahwa, inilah kosmologi Islam, bahwa realitas itu terdiri dari ruang, waktu, materi, dan ruh,” terangnya.

Prof Agus menambahkan, dalam QS Az Zumar ayat 46, dapat diindikasikan bahwa langit ke 7 adalah ghoib atau di luar jagad raya, artinya langit ke tujuh posisinya di luar ruang material. Jadi Mi’raj yang dilakukan oleh Rasulullah adalah masuk ke dimensi yang lebih tinggi ke luar material atau langit ke tujuh untuk menerima perintah salat.

“Ini susah memang kalau mau mengambarkan alam di luar ruang material, tapi kita yakin dan menerima hadis-hadis sahih. Bahwa disekitar majelis takliim kita ini kan ada banyak malaikat lalu lalang, tapi malaikat yang banyak ini berada di luar dimensi kita. Sehingga kita tidak pernah bertabrakan, karena malaikat berada di dimensi yang lebih tinggi dari pada kita. Jadi Rasulullah menghilang masuk ke langit ke tujuh,” urainya.

“Jadi Mi’raj itu menembus dimensi ruang menuju ke dimensi yang lebih tinggi, immaterial atau gaib” pungkasnya.

 

Mengapa Isra Lebih Awal Mengapa Miraj dari Masjid Al Aqsha?

Dalam sebuah video lawas berisi wawancara tentang Isra dan Miraj di sebuah stasiun televisi swasta di Mesir, tokoh ulama Mesir, almaghfurlah Syekh  Muhammad Matwalli As Syarawi  mengungkapkan dalil-dalil aqli tentang perjalanan Nabi Muhammad ﷺ yang begitu mulia, dan rahasia mengapa peristiwa Isra lebih dulu atas Miraj, serta tentang Masjid Al Aqsha yang  menjadi tujuan Isra Nabi Muhammad ﷺ.

Syekh As Syarawi mengatakan bahwa peristiwa Isra itu mesti lebih dulu dari Miraj. Karena Isra itu adalah aktivitas atau proses yang terjadi di bumi (amaliyah ardhiyah) yang itu  semua menembus ruang dan waktu serta semisalnya.

Sedang orang-orang musyrik Makkah mengetahui Masjidil Haram dan Masjidil Aqsha, mereka mengetahui berapa jarak di antara Masjidil Haram dan Masjid Aqsha.

Syekh Sya’rawi mengatakan bila peristiwa Miraj itu terjadi dari Masjidil Haram ke langit (Sidratul Muntaha), maka tidak akan ada di sisi Rasulullah ﷺ tanda-tanda yang terbentang yang dapat digunakan untuk menjelaskan pada pemikiran yang baru (orang-orang musyrik Makkah).

Hal ini karena tidak ada satu pun dari mereka (orang-orang musyrik Makkah) yang bisa pergi ke Sidratul Muntaha sehingga bisa menjelaskan Sidratul Muntaha, atau telah menempuh perjalanan dari bumi ke langit hingga bisa menceritakan tanda-tanda perjalanannya.

Maka dari itu (Masjid Al Aqsha) itu sesuatu yang diketahui orang-orang musyrik Makkah. Itu sebabnya mereka menyuruh nabi untuk menggambarkan tentang Baitul Maqdis karena di antara mereka ada yang mengetahui rincian tentang Al Alqsha.

Orang-orang musyrikin Makkah bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, dan beliau menjelaskan.

Nabi SAW menjelaskan dengan bukti yaitu kafilah yang dilihatnya ketika Isra dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha dan menceritakan tentang apa yang dilihatnya.

Maka ketika rombongan kafilah itu datang kembali ke Makkah, orang-orang Makkah memberitahu tentang apa yang telah dikatakan Rasulullah. Ketika kafilah itu datang, diberitahu tentang apa yang telah dikatakan Rasulullah SAW.

Maka peristiwa Isra dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha itu bisa dibuktikan dengan dalil bahwa Rasulullah benar dalam melakukan perjalanan Isra. Akan tetapi yang menjadi masalah (musykil khsusnya bagi orang-orang musyrik Makkah) adalah tentang waktu dan jaraknya.

Syekh Sya’rawi menegaskan bahwa Isra itu tanda-tanda Allah SWT di bumi (ayatun ardhiyah), sehingga bila telah menerima akal melampaui hukum untuk persoalan perjalanan dari Makkah ke Baytul Maqdis maka manusia bisa menerima bahwa hukum ruang dan waktu benar-benar dilampaui Nabi Muhammad SAW.

Dan selama orang-orang Makkah itu menerima atau percaya kebenaran Isra, maka ketika dikatakan pada mereka bahwa sesudah Isra nabi naik ke langit (Sidratul Muntaha) itu akan menjadi penjelas bagi akal mereka.

Syekh Syarawi memgatakan mungkin saja bagi Nabi SAW melakukan Isra dari Makkah ke tempat lain, namun demikian hikmah Isra dari Masjidil Haram ke Masjid Al Aqsha adalah tanda bahwa Masjid Al Aqsha masuk dalam tempat suci Islam. Dan bahwa Rasulullah SAW mendatangi semua tempat suci dan bahwa masjid tidak bisa dipisahkan sebagai tempat suci Islam.

SebelumnyaTafsir Surat Hud Ayat 69-70: Ketika Malaikat Bertamu ke Rumah Nabi Ibrahim SesudahnyaMisteri Waktu Hari Kiamat dan 3 Golongan yang Berbeda

Tausiyah Lainnya