SEKILAS INFO
  • 11 bulan yang lalu / “Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, maka akan dipahamkan akan agamanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
WAKTU :

Kerendahan Hati Rasulullah SAW Saat Peristiwa Fathu Makkah

Terbit 9 September 2021 | Oleh : admin | Kategori : Kisah Nabi
Kerendahan Hati Rasulullah SAW Saat Peristiwa Fathu Makkah

Sahabat sangat antusias menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan bersejarah itu.

Rasulullah SAW menunjukkan sikap rendah hati pada saat peristiwa Fathu Makkah. Rasulullah SAW dan para sahabat pada Jumat 13 Ramadhan meninggalkan Marr Az-Zahran.

Saat tiba di Dzi Thuwa, mereka langsung menuju Makkah di mana pada delapan tahun lalu Nabi SAW terpaksa berhijrah meninggalkannya. Para sahabat sangat antusias menemani Rasulullah SAW dalam perjalanan bersejarah dan berkah itu. Mereka ikut berangkat menemani Rasulullah untuk memadati lembah Makkah.

Dijelaskan dalam Mentari Kasih Sayang Rasulullah SAW yang Meluluhkan Kebekuan Hati karya Rasyid Haylamaz saat itu hati para sahabat diselimuti harapan akan datangnya kemenangan yang sempurna. Dalam perjalanan tersebut, Rasulullah mengenakan serban dengan menjulurkan ujungnya di antara kedua bahu.

Ketika Nabi SAW menunggangi unta, sahabat yang berambut ikal dan martabatnya terangkat dari status budak menjadi panglima yang tangguh, Usamah bin Zaid berada tepat di belakang Rasulullah SAW dalam perjalanan menuju Makkah itu. Hal tersebut merupakan dimensi tertinggi dari sikap rendah hati.

Sebab dalam perjalanan bersejarah itu, Rasulullah bisa saja membonceng anak salah seorang pembesar kaum Muslim di atas untanya. Beliau SAW juga bisa saja membonceng salah satu dari kedua cucunya, Hasan atau Husein.

Namun, semua itu tidak dilakukannya. Rasulullah SAW malah membonceng seorang budak berkulit gelap yang tidak diperhitungkan oleh seorang pun hingga ia dimuliakan oleh cahaya Islam.

Tak hanya itu, Rasulullah saat memasuki kota Makkah, menunggangi unta Al-Qushwa dengan kepala tertunduk karena begitu tinggi sikap rendah hatinya. Bahkan, dalam Subul Al-Huda wal Rasyad fii Sirah Khair Ibad karya Al-Shalihy disebutkan saat itu jenggotnya hampir menyentuh tunggangannya.

“Ya Allah, sesungguhnya kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat,” kata Nabi SAW bersabda.

* Pembebasan Mekkah *

Pembebasan Mekkah (bahasa Arab: فتح مكةFathu Makkah) merupakan peristiwa yang terjadi pada tahun 630 tepatnya pada tanggal 10 Ramadan 8 H, di mana Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kemudian menguasai Mekkah secara keseluruhan tanpa pertumpahan darah sedikitpun, sekaligus menghancurkan berhala yang ditempatkan di dalam dan sekitar Ka’bah.

* Penyebab *

Pada tahun 628, Quraisy dan Muslim dari Madinah menandatangani Perjanjian Hudaybiyah. Meskipun hubungan yang lebih baik terjadi antara Mekkah dan Madinah setelah penandatanganan Perjanjian Hudaybiyah, 10 tahun gencatan senjata dirusak oleh Quraisy, dengan sekutunya Bani Bakr, menyerang Bani Khuza’ah yang merupakan sekutu Muslim, walaupun sebenarnya yang pertama kali menyerang Bani Bakr adalah Bani Khuza’ah, dan sayang sekali permasalahan tersebut hanya diselesaikan dengan perjanjian elite yang tidak melibatkan akar rumput, sehingga masih menimbulkan dendam dikalangan Bani Bakr. Pada saat itu musyrikin Quraisy ikut membantu Bani Bakr, padahal berdasarkan kesepakatan damai dalam perjanjian tersebut di mana Bani Khuza’ah telah bergabung ikut dengan Nabi Muhammad dan sejumlah dari mereka telah memeluk islam, sedangkan Bani Bakr bergabung dengan musyrikin Quraisy.

Abu Sufyan, kepala suku Quraisy di Mekkah, pergi ke Madinah untuk memperbaiki perjanjian yang telah dirusak itu, tetapi nabi Muhammad menolak, Abu Sufyan pun pulang dengan tangan kosong. Sekitar 10.000 orang pasukan Muslim pergi ke Mekkah yang segera menyerah dengan damai. Nabi Muhammad bermurah hati kepada pihak Mekkah, dan memerintahkan untuk menghancurkan berhala di sekitar dan di dalam Ka’bah. Selain itu hukuman mati juga ditetapkan atas 17 orang Mekkah atas kejahatan mereka terhadap orang Muslim, meskipun pada akhirnya beberapa di antaranya diampuni.

* Pemimpin Pasukan *

Tanggal 10 Ramadan 8 H, Nabi Muhammad beserta 10.000 pasukan bergerak dari Madinah menuju Mekkah, dan kota Madinah diwakilkannya kepada Abu Ruhm Al-Ghifary.

Ketika sampai di Dzu Thuwa, Nabi Muhammad membagi pasukannya, yang terdiri dari tiga bagian, masing-masing adalah:

  1. Khalid bin Walid memimpin pasukan untuk memasuki Mekkah dari bagian bawah,
  2. Zubair bin Awwam memimpin pasukan memasuki Mekkah bagian atas dari bukit Kada’, dan menegakkan bendera di Al-Hajun,
  3. Abu Ubaidah bin al-Jarrah memimpin pasukan dari tengah-tengah lembah hingga sampai ke Mekkah. Menurut pendapat lain, empat bagian pasukan, bagian yang keempat dipimpin oleh
  4. Sa’ad bin ‘Ubadah memimpin orang madinah supaya memasuki Mekkah dari arah sebelah barat.

Dari Al-Hajun Nabi Muhammad memasuki Mesjid Al-Haram dengan dikelilingi kaum Muhajirin dan Anshar. Setelah thawaf mengelilingi Ka’bah, Nabi Muhammad mulai menghancurkan berhala dan membersihkan Ka’bah. Dan selesailah pembebasan Mekkah.

 

 

SebelumnyaSurat Ar-Ra’d: Pokok Kandungan, Keutamaan dan Manfaat SesudahnyaKeutamaan Menyembunyikan Sedekah

Tausiyah Lainnya