SEKILAS INFO
  • 1 tahun yang lalu / “Barangsiapa yang Allah menginginkan kebaikan baginya, maka akan dipahamkan akan agamanya.” (HR. Bukhori dan Muslim)
WAKTU :

Umat Islam di Jerman Kini Bisa Kumandangkan Adzan dengan Pengeras Suara

Terbit 7 Oktober 2022 | Oleh : admin | Kategori : Uncategorized
Umat Islam di Jerman Kini Bisa Kumandangkan Adzan dengan Pengeras Suara

Umat Muslim di kota Cologne, Jerman, menyambut baik izin yang diberikan kepada mereka selama dua tahun untuk mengumandangkan adzan setiap hari Jumat melalui pengeras suara. Hak untuk mengumandangkan adzan diberikan kepada umat Islam sebagaimana konstitusi Jerman.

“Saya berharap kami akan mengadakan adzan pertama kami (melalui pengeras suara) di sini pada 14 Oktober, setelah kami berurusan dengan langkah-langkah dan masalah yang perlu diselesaikan oleh pemerintah kota,” kata Penjabat presiden Persatuan Islam Turki untuk Urusan Agama (DITIB), Abdurrahman Atasoy, dilansir Anadolu Agency, Rabu (5/10).

Sebelum mengumandangkan adzan pertamanya, komunitas Muslim menyampaikan kepada penduduk sekitar tentang Islam dan prinsip-prinsipnya untuk menghilangkan prasangka apa pun. Dalam sosialisasi ini disampaikan bahwa kumandang adzan untuk memanggil umat Muslim agar datang ke masjid lima kali sehari untuk sholat wajib.

Sedangkan hari Jumat adalah hari paling suci dalam sepekan bagi umat Islam. Atasoy juga berterima kasih kepada Walikota Henriette Reker yang telah memberikan izin. Dia mengatakan, Muslim yang tinggal di Jerman secara turun-temurun adalah bagian alami dari masyarakat.

Direktur MoscheeForum, sebuah kelompok antaragama, Murat Sahinarslan, mengatakan mereka mengajukan permohonan untuk mengumandangkan adzan tahun lalu pada November kepada pemerintah kota. Setelah menerima umpan balik dari pemerintah kota mengenai laporan tersebut, akan ada beberapa penyesuaian kecil dalam beberapa hari mendatang.

“Praktik tersebut telah berlaku di Masjid Duren selama 35 tahun, Masjid Rendsburg di Jerman utara telah mengadakan adzan di luar ruangan selama bertahun-tahun, jadi kami bukan yang pertama. Masjid-masjid lain di Cologne belum mendaftar, kami sedang berkoordinasi dengan masjid-masjid yang berafiliasi dengan DITIB untuk masalah ini,” tambahnya.

Adzan di luar ruangan melalui pengeras suara setiap hari Jumat akan dilaksanakan antara pukul 12 malam sampai jam 3 sore. Kumandang adzan ini tidak akan bertahan lebih dari lima menit dan tidak melebihi volume tertentu agar tidak mengganggu tetangga.

Markas besar organisasi non-pemerintah Turki seperti DITIB, Islam Toplumu MillI Gorus (IGMG), Asosiasi Kebudayaan Islam Turki (ATIB) berlokasi di Cologne, kota terbesar di negara bagian North Rhine-Westphalia (NRW). Ada lebih dari 900 masjid yang berafiliasi dengan DITIB saja di Jerman.

Masjid Raya Koln, Pusat Kebudayaan Islam di Nordrhein-Westfalen

Masjid Raya Koln, dalam bahasa Jerman disebut DITIB-Zentralmoschee Koln. Orang-orang Turki  di Jerman menyebutnya  Merkez Camii.

Bangunan yang dimaksud adalah sebuah masjid baru yang dibangun komunitas Turki, Diyanet Isleri Turk Islam Birligi (DITIB) di Koln. Kompleks masjid ini terdiri atas halaman yang terbuka menghadap ke Venloer Strasse, Koln. Luasnya  4.500 meter persegi ditujukan untuk menampung 2.000-4.000 orang. 

Masjid Raya Koln merupakan sebuah masjid terbesar di wilayah Koln, menjadi pusat kegiatan dan kebudayaan Islam di salah satu negara bagian Nordrhein-Westfalen.

Masjid Koln ini selesai dibangun pada 2011. Masjid ini didesain dalam gaya arsitektur Ottoman, dengan dinding kaca, dua menara, dan sebuah kubah. Secara garis besar, masjid ini memiliki toko  di pintu masuk lantai dasar, ruang kuliah di lantai dasar, dan ruang shalat di lantai atas dan termasuk perpustakaan.

Kompleks ini utamanya tercirikan oleh ruang shalatnya. Ruang lapang ini terdiri atas beberapa dinding berlapis mirip cangkang kerang.

Di tengah dinding-dinding ini dibangun kubah kaca yang dilimpahi cahaya. Kubah dengan tinggi mencapai 35 meter ini dibuat seperti bola dunia yang transparan, sehingga bagian dalam masjid bisa terlihat dari luar. Bangunan masjid ini juga dilengkapi dengan dua buah menara setinggi 55 meter. Sementara eksterior bangunan utama, bangunan pendukung, dan menara masjid didominasi warna putih.

”Ruang shalatnya sangat terbuka dan kita membuat ruang persegi yang luas ini, yang mengundang orang dari semua agama,” kata Paul Bohm, sang arsitek. Sebuah rancangan yang ditujukan untuk mengomunikasikan keterbukaan dan suatu undangan untuk menjenguk ke dalam.

Menurut Bohm, hiasan jendela kaca tersebut akan memberikan pengunjung memiliki perasaan ketenangan, sangat terbuka ketika berada di dalam masjid. Rasa luas dan keterbukaan ini, menurut dia, semakin terlihat dari tangga masuk dari arah jalan. Pengembang berkeinginan agar lingkungan luar masjid akan semakin terbuka dan menerima semua komunitas Muslim di lingkungan tersebut.

SebelumnyaDeputi B I: Perlu Inovasi untuk Kembangkan Ekonomi Syariah SesudahnyaAbbad bin Bisyr, Sahabat Nabi yang Tetap Melanjutkan Sholat Meski Dihujani Panah

Berita Lainnya

0 Komentar